Jumat, 30 Oktober 2009

asal usul penyengat & semua tentang penyengat

A.ASAL USUL PULAU PENYENGAT

Menurut cerita, pulau mungil di muara sungai Riau jni sudah lama dikenal oleh parapelaut sejak berabad-abad yang lalu karena menjadi tempat persinggahan untuk mengambil air tawar yang cukup banyak tersedia di pulau itu.
Menurut legenda lebih lanjut,nama “Penyengat” diberikan kepada pulauitu, karena pernah pelaut-pelaut yang sedang mengambil air bersih di tempat itu diserang oleh semacam lebah (insect) yang dipanggil “penyengat” hingga membawa korban bagi rekan-rekan pelaut itu. Sejak peristiwa itu pulau tersebut terkenal di kalangan pelaut dan nelayan dengan panggilan “Pulau Penyengat” .Kemudian, tatkala pusat pemerintahan Kerajaan Riau bertempat di ,pulau itu ia diresmikan dengan nama “Pulau Penyengat InderaSakti”.Karena letaknya sangat baik bagi pertahanan negeri Riau yang berpusat di Ulu Sungai Riau {Riau Lama}, pada abad-abad yang lalu Pulau Penyengat telah berkali-kali menjadi medan pertempuran {Perang Sultan Sulaiman- Raja Kecik Siak} , bahkan tatkala terjadi perang Riau dengan Belanda (1782-1784) Pulau Penyengat telah dijadikan pusat pertahanan yang utama.
Benteng-benteng dengan sistem pertahanan dengan “gaya Portugis” telah dikembangkan di Pulau itu yang sisa-sisanya masih dapat dilihat sekarang.Pada 1803 Pulau Penyengat telah dibina dari sebuah pusat pertahanan menjadi negeri, dan kemudian berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga, sementara Sultan berkediaman resmi di Daik-Lingga. Baru kemudian -pada tahun 1900- Sultan Riau-Lingga ke Pulau Penyengat.

Sejak itu lengkaplah peranan Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istiadat, agama Islam, dan kebudayaan Melayu.Peranan Pulau Penyengat yang menonjol itu berakhir tatkala Sultan Riau-Lingga terakhir, Abdul Rahman Muazam Syah, meninggalkan pulau itu mengungsi ke Singapura karena tidak bersedia menandatangani kontrak yang menghilangkan hak dan kekuasaan raJa dan’pembesar-pembesar tradisonal Riau.Di Singapura Sultan dan pengikut-pengikutnya diberitahu, bahwa Belanda akan merampas segala harta benda (termasuk istana, gedung-gedung, tanah dan sebagainya) milik pejabat¬pejabatyang meninggalkan negeri Riau. Untuk menghindarkan agar milik mereka tidak jatuh ke tangan Belanda, Sultan dan pembesar-pembesarnya memerintah kepada rakyatnya yang tinggal di Pulau Penyengat agar meruntuhkan bangunan-bangunan yang ditinggalkan itu, menanami tanah-tanah yang kosong dan rnenghancurkan apa saja yang kiranya akan dirampas Belanda.Itulah sebabnya walaupun kesultanan Riau Lingga belum 100 tahun berakhir, sisa-sisa keagungan dan kebesaran kerajaan, Riau Lingga boleh dikatakan sudah pupus sama sekali, tinggal hanya puing-puing berserakan.
Di antara puing-puing yang berserakan itu, yang masih dapat ditandai, antara lain:
- sebuah mesjid yang masih terawat dengan baik
- empat buah komplek makam/ kuburan diraja
- dua buah bekas istana dan beberapa buah gedung lama
-benteng, sumur, taman dan sebagainya.

B.LATAR BELAKANG PULAU PENYENGAT



A.SELAYANG PANDANG
Pulau Penyengat merupakan pulau yang berjarak sekitar 6 km di seberang kota Tanjungpinang, Ibu Kota Kepulauan Riau. Pulau ini penuh makna bagi sejarah Kesultanan Riau-Lingga. Pada masa keemasannya, Kesultanan Riau-Lingga menjadikan Pulau Penyengat tidak hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat kebudayaan dan keagamaan. Maka tak heran, jika hingga saat ini, peninggalan dari masa keemasan Kesultanan Riau masih dapat ditemui di pulau ini.
Konon, jauh sebelum menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, pulau seluas 240 hektar ini sering dikunjungi para pelaut atau nelayan yang ingin mencari air bersih. Suatu ketika, saat seorang nelayan tengah mengambil air, tiba-tiba ia dikejar oleh sekelompok binatang sejenis lebah yang juga memiliki sengat. Sejak saat itu, binatang tersebut dikenal sebagai binatang penyengat, dan pulau ini pun disebut dengan Pulau Penyengat.
Dalam kisah yang diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat Melayu, Pulau Penyengat digambarkan sebagai mas kawin yang diberikan oleh Sultan Mahmud Marhum Besar, Sultan Riau periode 1761—1812 M, kepada Engku Putri Raja Hamidah, putri dari Raja Haji Fisabilillah.

Istana Raja Ali Haji di Pulau Penyengat
B. Keistimewaan
Memasuki dermaga di Pulau Penyengat, pengunjung langsung dapat melihat Masjid Raya Sultan Riau. Dari masjid inilah, pengunjung dapat memulai perjalanan wisatanya di Pulau Penyengat. Masjid tua ini, dibangun pada tahun 1832 M, atas prakarsa Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman. Di masjid ini, tersimpan ratusan naskah kuno beraksara arab dan beberapa Alquran tulisan tangan. Sayang, beberapa di antara naskah-naskah kuno tersebut sudah dalam kondisi hancur, karena udara lembab. Selain itu, masjid yang memiliki perpaduan gaya arsitektur khas Melayu, Arab, dan India ini memiliki cerita unik dalam sejarah pembangunannya. Konon, bangunan ini menggunakan putih telur sebagai bahan perekat konstruksinya.

Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat
Selepas melihat-lihat masjid yang kaya dengan nilai sejarah ini, pengunjung bisa beranjak dan mengunjungi lokasi wisata lain di pulau ini, seperti berziarah ke makam-makam tokoh Kerajaan Riau-Lingga. Di antaranya adalah makam Engku Putri Raja Hamidah dan makam Raja Ali Haji. Di sepanjang dinding bangunan makam Raja Ali Haji, diabadikan karya besarnya: Gurindam Dua Belas.

Makam Raja Ali Haji
Salah satu peninggalan sejarah yang juga dapat dikunjungi adalah Balai Adat. Balai Adat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan perkakas-perkakas milik raja dan tuan putri dari Kerajaan Riau-Lingga. Bangunan dengan arsitektur Melayu ini, kini digunakan masyarakat setempat untuk melangsungkan rapat dan juga acara pernikahan. Di bawah kolong bangunan ini, terdapat air sumur yang memiliki mata air jernih. Sumur yang debit airnya tidak pernah berkurang ini, diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit dan mengentengkan jodoh.
Selain menikmati bangunan-bangunan di atas, pengunjung masih bisa meneruskan perjalanan ke Benteng Bukit Kursi. Benteng ini dibangun pada tahun 1782—1784 M, semasa pemerintahan Raja Ali Haji, dan dimaksudkan sebagai benteng pertahanan, ketika melawan tentara Belanda. Letak benteng yang berada di lereng bukit dan menghadap ke laut, membuat pengunjung dapat menikmati dua hal sekaligus: peninggalan bersejarah dan juga panorama laut yang begitu cantik dari sisi lereng bukit ini.
C. Lokasi
Kelurahan Penyengat, Kecamatan Tanjungpinang, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Indonesia
D. Harga tiket
Untuk memasuki pulau ini, pengunjung tidak dikenakan biaya.
E. Akses
Untuk bisa mencapai Pulau Penyengat, pengunjung dapat menaiki perahu motor kecil yang dikenal dengan sebutan pompong, dari Pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjung Pinang. Untuk menaiki pompong ini, penumpang dikenakan biaya Rp 5.000,00 per orang. Atau jika ingin menyewa, biaya yang dikenakan sebesar Rp 50.000,00 per pompong (Agustus 2008).
F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya
Di Pulau Penyengat, tidak terdapat hotel ataupun penginapan. Pengunjung yang ingin tinggal lebih lama dapat menginap di rumah-rumah penduduk, bahkan untuk jangka waktu hingga sebulan. Di pulau ini, pengunjung tidak akan menemukan mobil ataupun kendaraan sejenisnya. Jadi, untuk mengelilingi pulau, pengunjung dapat menggunakan jasa becak motor (bemor) yang bisa ditumpangi dua orang. Dengan mengeluarkan uang sewa sebesar Rp 20.000,00 per jam, pengunjung dapat mengelilingi pulau ini, dengan rute yang telah ditentukan pengemudi bemor. Tak hanya itu, pengemudi bemor pun dapat menjadi pemandu yang bisa menceritakan sejarah tempat-tempat yang dikunjungi. Jika mempunyai waktu yang cukup panjang, wisatawan dapat berjalanan kaki untuk menjelajahi pulau kecil ini.



MESJID RAYA SULTAN RIAU

Mesjid ini di bangun pada tahun 1832 pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rahman, pembangunan mesjid ini dilakukan secara bergotong royong oleh semua masyarakat penyengat pada masa itu.

Aspek yang paling menarik dalam pembangunan mesjid ini adalah digunakannya putih telur sebagai campuran semen untuk dinding mesjit. Mesjid ini merupakan bangunan yang unik dengan panjang 19,8 meter dan lebar 18 meter, rungan tempat sembahyang disangga oleh 4 buah tiang besar, atapnya berbentuk kubah sebanyak 13 buah dan menara sebanyak 4 sebuah, semuanya berjumlah 17 sesuai dengan rakaat sebahyang sehari semalam.

Di dalam mesjid ini juga terdapat kitab suci Al-Quran yang ditulis tangan, serta lemari perpustakaan kerajaan riau-lingga yang pintunya berukir kaligrafi yang melambangkan kebudayaan islam sangat berkembang pesat pada masa itu.

KOMPLEKS MAKAM ENGKU PUTERI RAJA HAMIDAH

Di dalam kompleks makam yang memiliki struktur atap bersusun dengan ornamen yang indah ini terdapat beberapa makam pembesar kerajaan riau salah satu diantaranya adalah makam Enku Puteri. Engku Puteri yang memiliki naman lahir Raja Hamidah merupakan anak dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau ke IV.

Perkawinan dengan Sultan Mahmud mengantar Engku Puteri Raja Hamidah menjadi tokoh yang sangat penting dalam kerajaan Riau-Johor pada awal abad ke-19. Karena di dalam tangannya diamanahkan alat-alat kebesaran kerajaan (insignia atau rgelia). Tanpa alat-alat kebesaran itu penobatan seorang sultan menjadi tidak sah menurut adat setempat.

Pulau pengengat juga merupakan mas kawin dari Sultan Mahmud kepada Engku Puteri. Engku Puteri wafat pada tahun 1844. Selain makam Engku Puteri juga terdapat makam Raja Haji Abdullah Yang Dipertuan Muda Riau IX, dan makam Raja Ali Haji Sastrawan dari kerajaan Riau Lingga, karyanya yang terkenal adalah Gurindam Dua Belas.

KOMPLEKS MAKAM RAJA HAJI FISABILLILLAH

Komplek makam ini terletak diatas bukit di selatan pulau Penyengat. Raja Haji Fisabilillah adalah Yang Dipertuan Muda IV kerajaan Riau Lingga yang memerintah kerajaan dari tahun 1777-1784 merupakan figur legendaris dan pahlawan melayu.

Raja Haji Fisabilillah sangat gencar mengadakan perlawanan-perlawanan terhadap penjajah, peristiwa yang terbesar adalah ketika meletusnya perang Riau. Pasukan Riau berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari perairan Riau dan memenangkan pertempuran tersebut setelah berhasil menenggelamkan kapal Maraca Van Warden.

Raja Haji wafat pada 18 juni 1784 dikenal sebagai Marhum Teluk Ketapang. Oleh Belanda, Raja Haji dikenal juga sebagai Raja Api. Dan oleh Pemerintah Indonesia Raja Haji Fisabilillah dianugrahi menjadi pahlawan nasional. Disebelah komplek makam Raja Haji Fisabilillah juga terdapat makam Habib Syech, ulama terkenal semasa kerajaan Riau.


KOMPLEK MAKAM RAJA JAKFAR

Komplek makam Raja Jakfar adalah komplek makam yang baik diantara makam lainnya. Dilapisi dinding dengan pilar dan kubah kecil disamping terdapt kolam tempat berwudhu untuk sholat. Raja Jakfar adalah anak Raja Haji Fisabilillah, merupakan Yang Dipertuan Muda Riau VI.

Pada masa pemerintahannya ia memindahkan pusat kerajaan yang tadinya di hulu Riau ke pulau Penyengat. Ia memulai karirnya sebagai pengusaha pertambangan timah yang sukses di Kelang, Selangor.

Karena sering mengunjungi kota melaka beliau menjadi peka akan penataan kota dengan arsitektur yang sejalan dengan zaman. Karena itulah pulau Penyengat ditata dan dikelolanya dengan selera yang tinggi.

Dalam komplek makam Raja Jakfar juga terdapat makam Raja Ali Yang Dipertuan Muda VIII kerajaan Riau anak dari Raja Jakfar. Raja Ali merupakan figure yang taat beribadah. Pada masa pemerintahannya ia membuat kebijakan untuk mewajibkan kaum laki-laki melaksanakan sholat jumat dan mewajibkan kaum wanita untuk menggunakan busana muslimah.


KOMPLEK TENGKU BILIK

Bangunan yang megah ini menggambarkan betapa jayanya kerajaan Riau Lingga pada rentang tahun 1844. Bangunan tua yang mempunyai berarsitektur Eropa modern ini berada tepat disamping komplek makam Raja Jakfar.

Gedung tengku bilik ini mempunyai kemiripan dengan gedung kampung Gelam yang berada di Malaka. kemiripan arsitektur kedua gedung tersebut menunjukkan kuatnya jalinan persaudaran dan kerjasama dari dua kerajan besar pada saat itu.


ISTANA RAJA ALI

Istana Raja Ali juga dikenal dengan Istana Kantor, karena fungsi bangunan ini selain sebagai rumah juga sebagai kantor Raja Ali Yang Dipertuan Muda VIII kerajaan Riau.

Komplek istana ini sangat besar, ukurannya sekitar no meter, dikelilingi oleh tembok tebal lengkap dengan pintu gerbang dibagian belakangnya. Keagungan istana ini masih dapat kita lihat sampai saat ini.

Setelah wafat, Raja Ali dikenal dengan Marhum Kantor.


MAKAM RAJA ABDURRAHMAN

Raja Abdulrahman adalah Yang Dipertuan Muda VII kerajaan Riau Lingga. Ialah yang membangun mesjid pulau Penyengat.

Pada masa pemerintahannya terjadi pengacauan oleh bajak laut, dan campur tangan pihak Inggris mempersulit kedudukan Raja Abdulrahman.

Raja abdulrahman wafat pada tahun 1843, dengan gelar post humousnya adalah Marhum Kampung Bulang. Makamnya terletak di atas sebuah bukit yang memaparkan pemandangan pada mesjid yang dibangunnya.

BENTENG PERTAHANAN BUKIT KURSI

Dibangun pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Raja Haji Fisabilillah, yang pada masa itu menjadikan pulau Penyengat sebagai benteng pertahanan yang ampuh pada perang riau di benteng ini masih dapat kita jumpai parit pertahanan dan meriamnya.


PERIGI PUTERI/PERIGI KUNCI

Bangunan mungil yang berbentuk unik beratap kubah setengah slinde ini merupakan tempat pemandian bagi kaum wanita terutama para puteri bangsawan kerajaan Riau-Lingga.


MAKAM RAJA ALI HAJI

Makam Raja Ali Haji berada satu komplek dengan makam Raja Hamidah Engku Putri. Raja Ali Haji sangat termashyur dengan karyanya Gurindam 12, yang berisi tentang petunjuk menjalankan kehidupan sehari yang bertujuan untuk membentuk akhlak mulia dan menegakkan ajaran agama Islam.


TAMAN MONUMEN PERJUANGAN RAJA HAJI FISABILILLAH

Monumen setinggi 28 m ini dibangun oleh pemerintah untuk mengenang perjuangan Raja Haji Fisabillillah yang merupakan pahlawan Bahari dan Kepulauan Riau. Disekitar monumen terdapat taman Raja Haji Fisabilillah yang memaparkan pandangan laut beserta pulau-pulau disekitar kota Tanjung Pinang bersantai disore hari disini sambil menikmati suasana matahari terbenam merupakan aktifitas yang sangat menyenangkan.


KOMPLEK MAKAM DAENG MAREWAH

Daeng Marewah atau Kelana Jaya Putera adalah Yang Dipertuan Muda I kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga, memerintah tahun 1721-1728, gelar posthumousnya adalah Marhum Mangkat Disungai Bahari. Dalam komplek makamnya juga terdapat makam keluarga termasuk Tu Encik Ayu yang merupakan istri Daeng Marewah.


KOMPLEK MAKAM DAENG CELAK

Daeng Celak adalah Yang Dipertuan Muda Riau II yang merupakan ayahanda Raja Haji Yang Dipertuan Muda IV. Ia memerintah tahun 1728-1745. Pusarannya telah dibuatkan cungkup menaungi bersma putera istrinya Engku Puan Mandak Binti Sultan Abdul Jalil Ri Ayat Syah. Dalam komplek pemakaman yang dikelilingi tembok berkisi setinggi 70 cm terdapat pusara-pusara lainnya.





C.JUMLAH DAN MATA PENCAHARIAN(PEKERJAAN) PENDUDUK PULAU PENYENGAT

Pulau Penyengat terdiri dari beberapa buah kampung yang tergabung dalam suatu desa atau kepenghuluan: Kepenghuluan Pulau Penyengat.Jumlah penduduknya 2026 jiwa {1989},2442(2004), sebagian besar adalah suku {etnis} Melayu dan sehari-hari berbahasa Melayu, bahasa Melayu Riau.Mata pencaharian penduduk terutama menjadi nelayan, buruh lepas, ada yang bekerja sebagai pegawai negeri dan swasta di Tanjung Pinang.

D.BUDAYA PULAU PENYENGAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar