Senin, 18 April 2011

Beberapa masalah dalam pengelolaan pengajaran berbicara dan usul perbaikannya


A.Beberapa masalah dalam pengelolaan pengajaran berbicara dan usul perbaikannya
1.Minat seseorang berbicara
            Usul perbaikannya dengan mengadakan kegitan yang berbasis berbicara seperti membacakan pantun ,puisi,cerpen, sehingga dengan dilakukan kegiatan ini diharapkan minat berbicara seseorag dari yang kurang berminat menjadi berminat.

2.Kejelasan berbicara
            Dengan mengadakan pelatihan/melatih vocal,konsonan serta organ-organ artikulasi sehingga lancer/dapat jelas dalam penyampaian.menggunakan kata-kata yang tepat(kata yang mudah dipahami,tidak perlu juga terlalu terburu-buru)sehingga apa yang diucapkan dapat diterima pendengar dengan jelas.

3.Tanggung jawab berbicara
            Hendaknya pembicara dapat mempertanggungjawabkan bahan pembicaraaannya yang disampaikan kepada pendengar,hal ini bias dilakukan dengan cara mencantumkan nama pengarang serta menjelaskan dari mana sumber/referensi bahan pembicaraaan berasal,serta menurut pendapat ahli yang sesuai dengan bahan pembicaraan,hal ini akan menimbulkan keyakinan bagi pendengar atas bahan pembicaraan yang kita sampaikan kepada pendengar sehingga tidak menimbulkan kebingungan terhadap pendengar.

4.Mendengar kritis
            Pendengar memang sesutau yang sangat mempengaruhi hasil pembicaraan,apabila pendengar responsive dengan pembicaraan kita maka dapat dikatakan bahwa kita berhasil dalam melaksanakan/membawakan kegitan berbicara,hal ini dapat dilakukan dengan cara memancing minat serta kekritisan pendengar dengan bahan-bahan yang sedang hangat dibicarakan ,dengan menyelingi beberapa humor-humor segar yang bias mencerahkan suasana sehingga dipastikan pendengar akan menjadi responsive terhadap apa yang kita sampaikan.


5.Mendidik pendengar menjadi pendengar yang baik
            Dapat dilakukan dengan cara menyampaikan bahan-bahan yang bersifat mendidk,kerohanian,nasehat sehingga diharapkan pendengar dapat mengambil serta melaksanakan tips-tips positif/nasehat yang kita sampaikan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

6.Diagnosis kebutuhan pendengar
            Diagnosis berarti meneliti dan memberikan hasil atas sesuatu,jadi hendaknya pembicara tidak terlalu focus terhadap penyampaian 1 bahan pembicaraan saja,tapi pembicara dapat menyelingi dengan bahan lain seperti bahan politik,agama dll,bahkan contoh juga dapat diberikan sebagai penjelas terhadap bahan pembicaraan.

7.Kefasihan berbicara
            Menguasai topic pembicaraan ,menggunakan kalimat2 yang logis yang mudah dipahami dan dimengerti pendengar.banyak latihan berbicara seperti berinteraksi social antar masyarakat,bias juga dengan latihan membaca seperti membaca puisi,novel cerpen dll pokoknya segala kegiatan yang berhubungan dengan berbicara.

8. Rendahnya penguasaan kosakata, kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, dan ketidakmampuannya mengembangkan gagasan.
            Dapat diatasi dengan banyak membaca buku,referensi atau sumber-sumber pengetahuan lain sehingga memperbanyak ilmu dan pengetahuan.

9. Kebiasaan menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) dalam berkomunikasi,baik di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
            Mengurangi pemakaian bahasa daerah yang menimbulkan kebingungan bagi pendengar yang tidak mengerti akannya.sebab penggunaan kata-kata/bahasa yang tidak logis akan menimbulkan kebosanan bagi pendengarnya.

B.USUL PERBAIKAN BAHAN DAN TEKNIK PENGAJARAN BERBICARA
1.Seringnya para guru menggunakan teknik ceramah untuk menjelaskan bahan ajar. Hal ini akan memperparah keadaan sebab teknik ceramah tidak akan mampu menerampilkan siswa dalam berbicara, tetapi hanya sekadarmenghasilkan penguasaan pengetahuan. Guru aktif menerangkan, dan siswa hanya mendengarkan bahan yang diajarkan. Padahal keberhasilan suatu pembelajaran dipengaruhi juga oleh keaktifan para siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

2. Kesulitan dalam hal itu umumnya terjadi pada pemilihan kata (diksi), penggunaan struktur kalimat dan penyampaian pikiran secara runtut. Kesulitan yang bersifat psikologis timbul karena siswa mengalami hambatan berbicara  secara formal, misalnya berbicara di hadapan khalayak ramai atau di depan kelas, padahal dalam situasi informal ia mampu berbicara  dengan jelas. Untuk mengatasi hal itu, siswa hendaknya diberi  kesempatan sebanyak mungkin untuk berbicara dalam situasi formal sehingga dalam situasi seperti itu ia termotivasi untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar